Membahas tentang filsafat manajemen pendidikan, tidak bisa kita pisahkan dengan sejarah filsafat. Seperti kita ketahui filsafat mempunyai andil yang sangat besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, segala ilmu pengetahuan lahir dari rahim filsafat. Bisa dikatakan bahwa filsafat adalah induk segala ilmu pengetahuan.
Pertama-tama pada latar filsafat diperlukan dasar ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Atau yang sering kita sebut tiga pilar filsafat.
Dasar ontology sangat diperlukan dalam filsafat pendidikan. Adapun aspek realitas yang dijangkau melalui pengalaman pancaindra ialah dunia pengalaman manusia secara empiris baik yang berupa tingkat kwalitas maupun kwantitas hasil yang dicapai. Objek materinya ialah sisi yang mengatur seluruh kegiatan kependidikan. Peranan filsafat pendidikan memberikan inspirasi, yakni menyatakan tujuan pendidikan negara bagi masyarakat, memberikan arah yang jelas dan tepat dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan pendidikan dan praktik di lapangan dengan menggunakan rambu-rambu dari teori pendidik. Seorang guru perlu menguasai konsep-konsep yang akan dikaji serta pedagogi atau ilmu dan seni mengajar materi subyek terkait, agar tidak terjadi salah konsep atau miskonsepsi pada diri peserta didik.
Dasar epistmologi diperlukan dalam pendidikan atau ilmu pendidikan demi mengembangkan ilmu secara produktif dan bertanggung jawab. Sedangkan dasar aksiologi merupakan suatu pendidikan yang menguji dan menitegrasikan semua nilai tersebut dalam kehidupan manusia. Dengan kata lain nilai-nilai tersebut ditanamkan dalam pribadi para pemimpin pendidikan (kepala sekolah), guru, staf dan anak didik. Ketiga pilar tersebut dapat membantu kita dalam menelusuri ilmu yang bersifat intensif dan ekstensif dengan filsafat. Sehingga kita dapat menentukan nilai-nilai filosofis dalam pengembangan pendidikan. Selain itu, diantara ketiga pilar tersebut juga saling berkaitan, yaitu :
1. Hakekat dari hakekat ( ontologi dari ontologi ), dan ini merupakan rahasia Ilahi.
2. Hakekat dari epistimologi ( ontologi dari epistimologi )
Merupakan hakekat suatu metode. Dan hal kedua hal ini tidak dapat dipisahkan. Benar, salah, juga metode merupakan epistimologi.
3. Ontologi dari aksiologi
Merupakan suatu hakekat baik-buruk. Setiap orang berbeda dalam menilai baik buruk. Yang menurut kita baik belum tentu orang berpikir demikian. Semua tergantung oleh pemikiran dan filsafat masing-masing orang. Misal kematian Osama bin Laden, menurut sebagian orang merupakan kabar buruk, namun menurut sebagian orang lain merupakan kabar gembira.
4. Epistimologi dari ontologi
Merupakan metode untuk menggali hakekat. Misalnya dalam agama Islam dikenal dengan Tarekat sedang dalam agama non Islam dikenal dengan istilah retret.
5. Epistemologi dari epistemologi
Merupakan metode menggali metode. Hal ini untuk mengetahui kebenaran metode, namun untuk mengetahuinya kita harus tahu terlebih dahulu tentang hakekat.
6. Epistimologi dari aksiologi
Merupakan metode untuk mengungkap baik dan buruk. Bagaimana kita berpikir jernih agar bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk, sehingga dapat memperoleh metode yang tepat dalam pemecahan masalah.
7. Aksiologi dari ontologi
Merupakan baik buruknya hakekat. Diperlukan sopan santun terhadap ruang dan waktu. Misal, saat membahas tentang Tuhan, maka sebaiknya di tempat yang semestinya yaitu di masjid (bagi umat Islam), gereja (non Islam), dll.
8. Aksiologi dari epistimologi
Merupakan etik dan estetikanya metode. Bagaimana bisa menempatkan suatu hal sesuai dengan ruang dan waktunya atau sopan santun terhadap ruang dan waktu.
9. Aksiologi dari aksiologi
Merupakan baik buruknya tentang baik buruk. Bagaimana menyampaikan suatu hal yang baik maka haruslah disampaikan dengan baik pula. Misal, dalam ritual jawa tercermin saat resepsi pernikahan yaitu adanya tebu yang menyimbolkan anteping kalbu, artinya kekuatan hati kedua mempelai untuk mantab melangkah menjalani hidup baru, kacar kucur , mempelai lelaki mengucurkan beras kuning dan uang receh kepada mempelai perempuan dengan maksud tanggung jawab seorang lelaki member nafkah kepada keluarga.
Untuk menghindari berpikir prejudice maka aku membatasi pikiranku yaitu hatiku, dan di hatiku ada Tuhanku. Dimensi pikiran kita diawali dengan tingkatan material( tindakan ), naik ke formal( tulisan ) kemudian normative ( pikiran ) hingga spiritual( doa ). Ketika pikiranku bimbang memilih maka aku berdoa untuk mencari jawaban dari pilihanku. Dengan tidak berpikir prejudice maka kita juga terhindar dari mitos yang buruk. Kita tidak mudah percaya dengan hal-hal yang tidak masuk akal. Namun, tidak semua mitos buruk. Untuk mengajarkan hal yang baik kepada anak kecil terkadang kita juga memerlukan mitos sebagai medianya. Dan, untuk mengajarkan kepada anak maka diperlukan bahasa yang mudah dimengerti oleh mereka, agar mereka dengan mudah menangkap maksud dari ajaran yang kita ajarkan. Oleh karena itu filsafat sekarang ini sudah banyak menggunakan bahasa sehari-hari agar mudah ditangkap maksudnya.
terima kasih pak
BalasHapus