Matematika merupakan induk segala ilmu. Namun, tak pernah terbayang bahwa dalam matematika terkandung filsafat. Atau justru sebaliknya?entahlah, saya juga masih mencari penjelasan akan hal tersebut. Dan pada semester VI ini saya terkejut saat membaca paket mata kuliah semester ini tertulis Filsafat Pendidikan Matematika. Saya bingung, apa yang dipelajari ya?
Saat itu saya masih berpikiran bahwa dalam benak saya filsafat itu merupakan suatu cabang ilmu yang rumit, sulit dipahami, mempelajari objek abstrak, penuh rahasia dan manipulasi pikiran sederhana. Namun, seiring berjalannya waktu dan saya sudah masuk dalam kegiatan belajar mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika yang diampu oleh Dr. Marsigit, apa yang ada dalam pikiran saya sebelumnya mulai tergerus. Bapak Marsigit sangat paham cara yang tepat, menarik, menantang agar mahasiswa tergoda dengan elegy. Dengan cara seperti itu, beliau membantu mahasiswanya menemukan dan dapat berfilsafat. Melalui blog, Bapak Marsigit mampu membantu mahasiswa memperoleh pemahaman yang kokoh tentang manusia, alam, dan Tuhan.
Awalnya dalam membaca elegy saya harus membacanya berulang-ulang kali untuk menemukan arah dan tujuannya. Saya ingat betul waktu itu elegy pertama yang say abaca adalah elegy “Ritual Ikhlas”. Saat itu saya harus membacanya berulang-ulang kali dengan kata-kata yang begitu panjang lebar sehingga memerlukan waktu yang tidak sedikit. Namun, dengan berjalannya waktu aktivitas tersebut sangat menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Apalagi saat elegy yang menunjukkan hubungan manusia dengan Tuhan, selalu membuat bulu kuduk berdiri, saya teringat akan perbuatan dan dosa-dosa yang pernah saya lakukan.
Melalui pandangan-pandangan tentang filsafat maka Immanuel Kant ( 1724 – 1804 ) mengemukakan bahwa kita seharusnya tidak belajar filsafat melainkan berfilsafat. Belajar filsafat berarti melihat filsafat melulu sebagai suatu ilmu tertutup sebagaimana kita mempelajari sejarah atau suatu objek material tertentu. Kita seharusnya berfilsafat. Itu berarti kita selalu harus mampu berpikir sendiri, berdaya kreasi dan berusaha untuk selalu menemukan sesuatu yang baru. Filsafat merupakan suatu proses berpikir yang hidup dan bukannya suatu ilmu mati. Filsafat adalah suatu proses atau usaha pencaharian yang terus menerus; suatu cara berpikir yang terbuka bukan seperti ilmu pada umumnya yang selalu menuntut jawaban-jawaban tertentu sesuai dengan objeknya. Filsafat juga merupakan sebuah pertanyaan dan bukannya tanda seru (!), pernyataan (statement) atau proposisi. Justru dalam keterbukaan seperti ini filsafat berbeda dari ideologi atau dogma yang pada umumnya bersifat tertutup.
Peranan filsafat sendiri sangatlah penting. Terutama bagi pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (pendidik). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu: metafisika, epistemology dan aksiologi. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, warga belajar, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui. Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak
memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang pendidik, baik sebagai pribadi
maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang pendidik
perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan
senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun
masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam
hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan
pendidik sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (pendidik). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Tak terkrcuali pendidikan Matematika. Namun, pada akhirnya ditemui kendala-kendala atau problem dalam filsafat pendidikan matematika, yaitu siswa tidak dibiasakan untuk menginterpretasikan sebuah persoalan. Padahal, kita tahu, matematika itu adalah interpretasi manusia terhadap fenomena alam. Menurut saya akan kelemahan itu, tidak juga kemudian melakukan perubahan terhadap kurikulum matematika yang sudah ada, tapi adanya perubahan paradigma dan cara pandang baru tentang bagaimana unsur-unsur filsafat itu bisa diberikan kepada siswa. Tentu ini ditujukan kepada para guru agar apa yang diberikan kepada para peserta didiknya harus dilengkapi dengan berbagai penjelasan dan latar belakang terhadap sebuah rumus yang telah diyakininya itu, sebagai sebuah pengetahuan filsafat.
Referensi :
www.wikipedia.com