Rabu, 25 Mei 2011

FILSAFATKU MEMBANGUN DUNIAKU

Filsafat adalah diriku.(menurut definisi filsafat secara subjektif).

Dan, filsafatku adalah pikiranku. Apa yang aku pikirkan, pengalamanku, dll sehingga filsafatku dengan orang lain berbeda. Yang aku pikirkan mencakup yang ada dan yang mungkin ada. Diantara keduanya terbentang jembatan penghubung yaitu pikiranku sendiri.

Memahami akan hal tersebut, lalu saya refleksi diri, bahwa sungguh Tuhan Maha Adil. Dia menciptakan suatu hal di dunia ini beserta kontradiksinya.

Misalnya : tua >< muda

Besar >< kecil

Mimpi >< nyata

Dll.

Mengacu akan hal itu, muncul pertanyaan dalam benak saya, yaitu ketika aku melakukan suatu hal/ perbuatan, terkadang namun jarang aku berpikir sepertinya aku pernah melakukan hal tersebut. Pertanyaannya, apakah hal tersebut memang pernah saya lakukan ataukah hanya dahulu aku hanya pernah memikirkannya dan kebetulan terjadi ataukah hanya sugesti atau memang pernah aku lakukan ( nyata )?

Membahas hal itu, satu lagi pemikiran yang muncul dalam pikiranku, bahwa filsafat menyangkut kehidupan sehari-hari pula. Filsafat adalah ilmu yang mempelajari segala aturan dan hukum-hukum yang membalut kehidupan kita. Namun, ilmu filsafat tidak akan tersampaikan dengan baik tanpa adanya campur tangan bahasa. Nah, bahasa pun juga takkan bermakna tanpa kehadiran unsur bahasa, yaitu Subyek dan Predikat. Misalnya, ketika saya hendak mengatakan kalimat “Saya senang”. Sebagai subyeknya yaitu kata “saya” dan predikatnya adalah kata “ senang “. Jika subyek berdiri sendiri maka hanya akan keluar kata “saya”, maka hal itu justru memunculkan beberapa pertanyaan. Saya kenapa? Ada apa dengan saya?, dll. Begitu juga sebaliknya dengan jika hanya terdiri hanya predikatnya saja. Semua itu akan berbeda jika subyek dan predikat saling berdekatan, maka maknanya akan tersampaikan. Jelaslah sudah apa yang terjadi dengan “saya”. Dari hal di atas maka singkatnya bahwa unsur bahasa yaitu subyek dan predikat saling melengkapi.

Begitu juga dengan filsafat pendidikan matematika. Melalui jembatan yaitu bahasa, seorang dosen sebut saja Pak Marsigit dapat menyampaikan materi pembelajaran, tujuan, dan manfaat mempelajari filsafat pendidikan matematika. Sehingga antara Pak Marsigit dengan mahasiswa dapat terjadi interaksi diskusi dalam forum Tanya jawab. Untuk apa Pak Marsigit melakukan hal itu? Menurut saya Beliau menuntunku dalam membangun duniaku.

Demikian yang dapat saya uraikan dalam blog ini, dan uraian di atas bersumber dari kuliah hari Kamis, 19 Mei 2011 yaitu mata kuliah Filsafat Pendidikan Matematika. Terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar