Rabu, 04 Mei 2011

FILSAFAT DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI

Dalam filsafat, fenomena bersifat tetap ( kaum Permenides ) dan berubah ( kaum Heraklitos ). Dalam berpikir filsafat itu berdimensi-dimensi dan relatif terhadap ruang dan waktu, misalnya apa yang tetap dan berubah. Untuk menggapai dunia seutuhnya, maka kita harus sadar akan ruang dan waktu.

Dalam filsafat ada juga obyek filsafat yaitu obyek formal dan obyek material, dimana obyek formal digambarkan sebagai wadahnya, sedangkan obyek materialnya sebagai isi. Jadi, kedua obyek tersebut digambarkan sebagai wadah dan isinya. Jika keduanya berjalan beriringan maka kita akan terhindar dari incommensurable. Commensurable sendiri berarti adil, maka incommensurable berarti tidak adil. Pythagoras merupakan orang yang mengemukakan konsep tersebut dalam skala segitiga siku-siku, yaitu jika sisi siku-siku merupakan bilangan bulat maka sisi miringnya bukan bilangan bulat. Selain Pythagoras, ada juga Hilbert yang membangun system matematika formal yang modern. Contohnya struktur-struktur geometrid an aljabar. Hilbert sangat berperan dalam perkembangan matematika dan pendidikan matematika di Negara kita. Bahkan matematika di perguruan tinggi yang kita pelajari sekarang ini merupakan perwujudan tangan dingin seorang Hilbert. Namun selain itu, dalam mempelajari filsafat khususnya filsafat pendidikan matematika kita juga harus membangun 3 landasan ( pilar ) filsafat, yaitu aksiologis, epistimologis, dan ontologis. Sehingga kita dapat membandingankan bagaimana pendidikan di Negara kita dengan Negara lain. Pendidikan di Negara kita seharusnya menjadi sorotan dan perhatian penting untuk dibenahi, sehingga diharapkan dapat meminimalisir terjadinya penyimpangan dalam pendidikan. Misal, UN ( Ujian Nasional ) yang selama ini dijalankan belum bias mewakili aspirasi siswa-siswi. UN yang berjalan saat ini justru belum mencabik siswa menjadi semangat belajar, namun justru sebaliknya. Siswa dininabobokkan untuk melakukan penyimpangan pendidikan. Mengapa? Jawabannya karena yang diharapkan siswa adalah bukan lolos ujian dengan nilai yang bagus entah bagaimana caranya, tetapi yang diperlukan siswa adalah tempat menyalurkan aspirasi dan kreativitas mereka. Kreativitas yang tersalurkan sesuai bakat dan minat siswa, akan timbul rasa nyaman dan senang dengan pekerjaan dan kewajiban mereka, maka mereka merasa bertanggungjawab, sehingga mereka akan membuahkan hasil yang baik pula. Dengan begitu, siswa tidak merasa terpaksa dan mengarah pada penyimpangan pendidikan. Contoh nyata, yaitu kasus di sebuah kelas RSBI di suatu SMP yang mengusung tema “Kelas Hantu”. Semua ornamen di kelas tersebut berbau mistis. Tindakan yang perlu dilakukan adalah memberi pengertian dan pengarahan kepada siswa-siswa agar dapat berpikir, berkata, dan bertindak di jalan yang benar.

Dalam berfilsafat membutuhkan referensi sebagai jembatan penyeimbang. Referensi merupakan tesis dan antithesis. Antitesisnya adalah pikiran kita. Misal,dalam pendidikan kita muncul pemberontakan-pemberontakan yang menginginkan revolusi pendidikan, tidak sekedar teori, tetapi juga harus diimbangi dengan prakteknya. Teori sendiri termasuk referensi yang merupakan tesisnya, sedangkan prakteknya merupakan pengalaman yang menjadi antitesisnya. Meskipun kita menggunakan referensi, tetapi kita masih bisa mengembangkan pikiran dan kreativitas kita.

Filsafat itu juga tidak jauh dari kita. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita bisa berfilsafat, yaitu yang ada dan yang mungkin ada yang relatif terhadap ruang dan waktu. Entah mana yang lebih dahulu lahir. Jawabannya ada dalam pikiran kita masing-masing.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar